Rabu, 03 Juni 2015

Rabu 3 JUNI 2015

Rabu 3 Juni 2015, aku yakinkan diriku tuk perlakukan blog ini selayaknya buku diary ku.
Melanjutkan garis besar cerita sebelumnya, pagi ini Yuni mengirimi pesan untukku melimpahkan kemarahannya atas kedatanganku menemui orang tuanya. Tak tahu aku apa masalahnya, yang Yuni katakan hanyalah pesan yang mengatakan aku telah melanggar kesepakatan kita pada pertemuan sebelumnya. kesepakatan yang mana? Kesepakatan yang Yuni sendiri nyatakan tanpa ada kata Ya dari mulutku, apakah itu kesepakatan? Masih saja yuni kira aku mengganggu hidupnya, tak tahu lagi harus kemana aku curahkan rasa sakit ini. setelah ketenangan yang aku terima dari kedua orang tuanya, kini Yuni tambal lagi dengan ganjalan yang begitu besar. Kata-kata dia yang meminta aku beri kesempatan dirinya sampai habis hari raya besok dia mengancam akan menjawab sekarang, yang aku tahu jawaban itu akan lebih menyayat hati dan perasaan seorang pria yang dulunya tak pernah menangis ketika kegagalan cinta.

Tak ada ketenangan dalam langkahku hari ini, aku naik ketempat tidur, berbaring, tengkurap, keluar kamar jalan kesana kemari seperti orang linglung tanpa arah tujuan yang jelas. Ku temukan tujuanku kali ini, aku berwudhlu meski belum masuk waktu solat Duhur siang ini aku lihat jam pada ponselku terlihat angka 10.45. bingung bagiku apa yang hendak kuperbuat sekarang, ingin ku bersimpuh diahadap tuhan dan berdoa, tapi sudah habis waktu duha, kuputuskan ku baca Alquran tuk tenangkan hati seperti yang sudah-sudah dihari-hari kemarin. Entah berapa ayat yang ku baca. Hingga ada panggilan dari Ibu yang masih belum tahu keadaan sebenarnya.
Ku beranikan diri tuk cerita kepada Ibundaku yang paling aku cinta. Yang seshungguhnya Cintaku masihlah lebih besar untuk Bundaku daripada untuk Yuni kekasihku. Aku minta doa dan restu Ibuku dalam keadaan keterpurukanku ini. Duaarrrr ada satu kalimat yang menggetarkan hati keluar dari mulut sang ibu. “ aku kira kamu ngeyel buat dating kerumahnya karena kamu sudah mengisih kandungannya.” Sungguh ungkapan dari ibunda yang buatku merasa tak bisa menahan air mata. Meleleh air mata ini, ku ceritakan kejadian 2 hari sebelumnya, aku meminta maaf kepada ibuku karena  pada senin lalu berbohong dengan berpamitan pergi ke mantan kampusku diJogja. Aku katakan sebenarnya aku memang bertujuan kejogja, setelah aku menemui Yuni kekasihku. Begitu besar dosaku membohongi Ibuku seperti itu, semakin tak tahan lagi air mataku mengalir membasahi dagu yang bersamaan air mata ibuku membasahi lenganku yang saat itu aku sedang memeluk Ibuku karena rasa bersalahku. Kuceritakan pula hari Selasa kemarin aku bohong juga mengaku berangkat awal ketempat kerja padahal aku pergi mendatangi orang tua Yuni. Dan susasana sedih itupun pecah ketika ibuku mengatakan doa seperti apa yang aku mau.
“Ibu aku hanya inginkan restumu Ibu, mohonkan doa kepada Alloh ibu, jika Yuni memanglah jodohku, luluhkanlah hati Yuni ibu, terima makasud pinanganku ini Ibu, tetapi jika memang Yuni bukanlah jodohku doakan supaya anakmu ini diberi ketenangan batinnya tanpa rasa sakit yang harus aku derita” itu doa yang aku inginkan dari Ibuku.
Terdengar lantunan Adzan duhur, beranjak aku berwudhlu kujalankan solatku, ku memohon kepada Alloh Tuhanku.
“Ya Alloh, ampunilah segala dosa-dosaku ini, mudahkanlah segala urusanku ini ya Alloh. Ya Alloh, mudahkanlah rizki hamba, lancarkanlah apa yang hamba usahakan saat ini. Ya Alloh berilah petunjukmu kepada hamba ya Alloh, berikan titik terang dari-Mu kepada hamba, tunjukkanlah jalan-Mu bagi hamba tuk selesaikan masalah yang hamba hadapi ini. Ya Alloh apabila Yuni itu memang jodohku, yang baik bagiku, agamaku dan jalan hidupku, dekatkanlah Yuni kepada hamba, luluhkanlah hati Yuni,dan satukanlah kami hingga kata Halal melindungi kami. Tapi jika Yuni itu bukanlah jodohku, yang baik bagiku, agamaku dan jalan hidupku, berilah ketenangan pada diri hamba, hilangkanlah rasa sakit dalam diri hamba. Begitu banyak dosa-dosa hamba. Ya Alloh berikan petunjuk bagiku dan bagi Yuni untuk menjalani kehidupan ini. Berilah Yuni kemantapan hati dalam menjawab keputusannya nanti, jawaban yang sesungguhnya baik dihadapan-Mu dan jawaban dengan keridhoan-Mu, Amiin”
Ketenangan kembali menghampiriku melalui solat dan doaku. Kucoba menata hatiku ini kembali aku ergi kerumah kakakku yang tau semua yang terjadi saat ini yang selalu member nasehat bagiku. Tak sengaja ku meneteskan air mata ketika aku bercerita, yang ternyata pula kakakku tak tahan membendung air matanya mendengar ceritaku ini. Rupanya kakakku tak tega melihat keadaanku ini, malam tak bisa terlelap siangpun tak sanggup menelan makanan. Sudah beberapa hari ini hanya 1 atau 2 suap nasi yang sanggup masuk kedalam perutku, pening memang, dan lapar tetap terasa, tapi mulut pahit ketika nasi menyentuh lidahku. Kata kakakku “janganlah kau terlalu dalam merasakan penderitaanmu ini, akupun turut mendoakanmu adiku, setelah solatku, semoga diberikanlah titik terang antara hubungan kalian berdua.” Itulah yang aku mantapkan dalam hati ini hingga waktu Asharpun tiba kembali ku bersujud dan berdoa untuk kebaikan hubungan kami. Kulanjutkan membaca 1 atau 2 lembar Alquran yang sudah aku sediakan diakamarku. Untuk ketenangan hatiku, demi kebaikan hubungan kami.
Ya Alloh kabulkanlah doa-doa hamba Amiin…


KATA HATI
Siapakah aku?
Kini aku sendiri tak mampu mengenali siapa diriku ini
Aku tak mengerti apa yang terjadi pada diriku kali ini
Dimanakah aku yang dulu?
Dimanakah Usman yang dulu?
Yang tak menangis ketika Cinta mencoba menyayatkan pedang dihatiku
Yang tak menangis ketika Cinta mencabik-cabik setiap Inchi dari kehidupanku
Ya kau telah merubahku
Tak sadar aku telah berubah karena dirimu
Kaupun tak sadar merubah sikap dan pendirianku
Kaulah yang merubahku
Hanya kembalinya dirimu harapan bagiku
Kaulah yang mampu membenahkan hatiku
Kaulah yang mampu merubah sifat-sifatku
Perubahan, ya mungkin itu yang aku perlukan
Akan aku rubah cara pandangku
Ku panjatkan Nadzar dari mulut ini untuk kembalinya dirimu
Semoga Alloh kabulkan setiap doaku dan terlaksana Nadzarku
Amiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar