Selasa, 02 Juni 2015

SALAHKAH AKU?




Ketika aku memulai menulis cerita ini, ini adalah saat dimana aku dalam keadaan keterpurukanku. Aku pun berfikir akankah kisah cintaku berahur seperti orang-orang yang ada didekatku ini?
Kisah ini belumlah berakhir, tanpa ending didalamnya karena kehidupanku haruslah tetap berlanjut dan harus tetap aku jalani dalam keadaan apapun itu. Aku adalah seorang yatim yang sudah dewasa. 23 tahun ketika kumemulai tulisan ini. Aku terlahir dari sebuah kampung yang lumayan jauh dari perkotaan, tidaklah terlampau jauh cukup 30 menit menggunakan kendaraan bermotor untuk sampai kota.
Ini bukanlah kisah cinta seorang yang dari masa lalu, tapi ini adalah kisah cinta yang sering orang bilang cinta monyet atau cinta anak remaja, cinta anak remaja yang kini berlanjut hingga diriku dewasa. Kisah cinta ini entah bagaimana bermula, ingatanku sudah terkuras habis untuk mengingat dirinya. Yuni itulah namanya, tak pernah terpikir olehku akan merasa sakit yang begitu dalam menusuk hati, merobek-robek jiwa hingga tak tahu arah kemana hidupku kan berlalu.
Sebelum aku bercinta dengannya tak pernah terpikir olehku akan timbul rasa dalam diri kita berdua. Bermula ketika dia sebagai kurir cintaku pada masa SMA. Ya cinta monyet yang berakhir dengan kekalahanku pula.

Yuni       : ” Mas, mas Usman (namaku) yakin mau berikan ini (dia pegang boneka, coklat dan surat dariku) buat Eva?”
Usman  : “ ya aku yakin, walaupun mungkin dia akan menolak, tapi semoga saja dia masih mau menerimaku”
Miris memang ketika aku mengingat masa itu ku berikan boneka dan coklat untuk wanita yang kucinta dan mubadzir ku buang dan ku makan sendiri coklat itu. Yuni selalu mendukungku bersama teman karibnya Arista yang selalu membantu. Hingga habis dan hilang ras cintaku kepada Eva. Karena lulus SMA ku pilih tuk merantau jauh dari tanah kelahiranku. Masih dalam lingkup pulau Jawa. Cukup jauh bagiku yang kala itu belum tau seluk beluk setiap kota di negeriku Indonesia. Sebenarnya jika aku bisa memilih ingin sekali diriku melanjutkan tuk kuliah dalam Sastra atau perfileman. Tapi akupun tak berdaya, keadaan ekonomi keluarga yang sulit memaksaku merantau tuk bekerja. Hubungan bersama yuni pun hanya berlanjut lewat sms dan telfon sahaja. Kadang kala lewat chating media social yang kita kenal Facebook. Bermula kita saling bercerita tentang kisah cinta aku dan Yuni, yang kala itu Yuni masih menjadi milik sahabat karibku. Sehingga timbul salah paham anatara aku dan teman karibku. Pertemanan kami mulai renggang, mungkin dia berfikir aku merebut Yuni darinya.
Kala itu sama sekali taka da terbesit dariku raa cinta kepada Yuni. Adek itulah perasaanku untuknya. Hingga dia bercerita dia memiliki hubungan dengan orang yang kaya raya, jauh dariku yang hidup sederhana. Keininganku untuk melanjutkan sekolah terkabul, meski dengan jurusan yang tak pernah terpikir olehku tuk melanjutakan disana. Saat aku memasuki masa kuliah inilah aku memiliki kedekatan dengan Yuni, malam minggu ku sambangi dia dikosan yang ditempatinya dia masih SMA kala itu kelas 3 SMA. Kusiapkan bahuku tuk jadi sandaran baginya menangis sambil mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutny tentang kisah cinta yang dialaminya. Iba, itu rasa pertama yang timbul dariku untuknya.
Entah bagaimana timbul rasa dalam hati kami, dalam diri Yuni sehingga kami memilih tuk mencoba menjalin kasih asmara. Tak berlangsung lama memang 2 atau 3 bulan hubungan kami berjalan. Karena keegoisanku yang lebih memilih kembali kepada orang yang datang dari masa laluku. Eva, itu dia, dia mencoba kembali padaku dan menjalin kembali kisah aku dan Eva. Akan tetapi rasa sakit pula yang kudapatkan.
Hingga suatu ketika aku melihat Yuni yang hendak pulang kerumahnya, aku antar dia sampai depan rumahnya, itu bukanlah petama kali bagiku datang kerumahnya. Rumah yang orang tuanya pun tak mengijinkan teman lelaki dari Yuni datang terlalu lama disana. Kita kembali sebentar kemasa lalu. Saat dimana aku masih memperjuangkan rasa cintaku untuk Eva yang kebetulan adalah teman SMP dari Yuni. Dengan tujuan tuk mengerti dimana rumah Eva aku antar Yuni ke rumahnya dengan motor butut milik kakakku yang aku pakai pergi sekolah kala aku SMA. CB 100 butut, dengan itu ku boncengkan Yuni, hingga disuatu tanjakan motor bututku tak mampu untuk menopang berat badan kita berdua. Tawa muncul dari kita berdua, yang hingga kinipun masih ku ingat kejadian itu. Ya kini Eva lebih memilih tuk menikah dengan pria pilihannya. Dari situ aku tahu dimana rumah Yuni yang sampai dia lulus SMA aku sering main dan mengantar dia tuk pulang. Memang tak pernah diizinkan dari orang tuanya ada anak lelaki yang boleh datang kerumah Yuni. Tapi entah kenapa saat itu aku selalu diizinkan tetap datang menemui Yuni dirumah.
Lama kita berhubungan dalam ketidak pastian, Yuni yang mengenalku sebagai pria yang memiliki pasangan diaman-mana masih sulit baginya tuk menerimaku lagi. Tapi aku dan Yuni tetaplah dekat sebagaimana orang yang sudah berpasangan. Aku antar dia kemana dia pergi hingga suatu saat diapun juga pergi merantau ke Kota besar dipulau jawa ini. Aku antar kepergiaanya ku kecup keningnya.
Usman    : “ hati-hati ya disana jaga diri baik-baik, kalau tidak betah pulang aja cari kerja dekat-dekat sini”
Yuni         : “ iya mas makasih ya sudah nganter aku kesini, aku akan tetap hubungi mas Usman disana”
Usman    : “ iya jangan lupa tetap hubungi aku disana”
Ku kecup keningnya tuk ungkapkan rasa sayangku untuknya. Aku melihat dari belakang Yuni menaiki bus yang akan mengantar kepergiaanya. Dan aku tunggu hingga bus itu tak terlihat oleh mataku baru aku beranjak tuk pulang.
Sampailah dia disana 2 bulan kira lamanya. Dia bilang betah berada disana dan bisa menjaga dirinya baik-baik disana. Hingga suatu ketika ada masalah terjadi ditempat kerja Yuni. Bukan masalah Yuni yang bekerja tidak baik, tapi masalh kontrak tiap-tiap pegawai buruh disana. Hingga telfon genggamku bordering nyaring yang sebenarnya aku tunggu-tunggu itu kabar dari Yuni.
Yuni         : ”mas usman.”
Usman    : “ iya Yun ada apa? Apa tidak betah disana?”
Yuni       : ”sebenerny aku betah disini, kerjapun engga terlalu berat, gajinya lumayan gede, tapi ada maslah kont rak juga mas. Jadi mungkin aku akan pulang.”
Usman  : “ loh kok pulang? Gak coba ditunggu dulu siapa tau nanti dipanggil lagi? engga eman-eman uangnya buat pulang”
Yuni       :” gak apa apa mas aku pulang aja daripada disini aku nganggur mending dirumah aja. Mas aku kalau pulang boleh gak lewat Jogja, (kebetulan aku masih kuliah diyogyakarta) entar aku pulangnya bareng mas Usman, aku kangen sama mas Usman.”
Usman  :” iya boleh kok emangnya kapan mau pulang? Dalam waktu dekat ini ya? Ya udah nanti bareng aku aja gak apa apa, aku juga kangen sama kamu dek.”
Berakhir percakapanku ditelfon dengannya, hingga hari kepulangannya pun tiba. Tapi sayang kita tak bisa habiskan waktu itu bersama, karena ada kerja praktik dari kampusku sehingga terpaksa aku tinggal dia sendirian di kampusku hingga sore. Sore itu kita pulang bersama ku bonceng dia dengan motor kakakku yang sengaja kupinjam dengan alasan praktik itu padahal alasan sebenarnya adalah agar dia pulang bersamaku. Tak banyak hal yang kita bicarakan kala itu. Dan berpindahlah dia menemukan kerja di Semarang yang tak jauh dari tempat tinggalku.
Kebersamaan kamipun terus berlanjut, suatu ketika disaat yang menurutku tepat untuk ungkapkan perasaanku aku katakana pada Yuni dan aku ajak Yuni tuk menjalin kembali hubungan kita berdua. Liku-liku kisah cinta kita tetap selalu ada. Tapi aku bangga dengan kesetiaan dia dan menerimaku, bahkan setelah aku menyakitinya. Cukup sering bagiku untuk datang kerumahnya terlampau sering, sehingga beberapa kata pun dia ucapkan kepadaku. Yang sebenarnya sedikit menjadi beban bagiku
Yuni         :” mas usman beneran sayang sama aku?”
Usman    : “iya aku bener-bener sayang sama kamu dek. Dek kalau kita nikah nanti terus punya anak kita latih karate bersama ya (kebetulan aku dan Yuni memiliki hobi yang sama yaitu Karate)”
Yuni         :” iya mas kita didik dari kecil sampe gede biar dia jadi atlet yang bagus ya mas. Ngerti ga sih mas?”
Usman    : “ ngerti apa dek? (pertanyaan itu membuatku bingung)”
Yuni         : “ kalau mas usman ngomongin soal pernikahan rasany ki adem, seneng banget mas rasane”
Usman    : “ masa sih dek? Kenapa dedek mikir itu?”
Yuni         : “ jadi aku menilainya mas usman ki serius sama aku tidak mempermainkan aku.”
Aku hanya bisa tersenyum mendengar itu. Kemudian Yunipun melanjutkan pembicaraannya.
Yuni         : “ mas, kemarin bapak ngomong sama aku.”
Usman    : “ ngomong apa dek?”
Yuni         : “ bapak pengen mas usman datang kerumahku, sama kakak atau siapa buat nunjukin kalau mas usman serius sama aku. Bapak sama Ibu mau ngomong langsung sama mas usman, tapi bapak sama ibu gak tega karena bapak tahu mas usman masih kuliah. Tapi bagi bapak sama ibu yang penting sudah dibicarakan oleh orang tua masalah nikah besok-besok agak lama gak apa-apa. Malu sama tetangga mas usman keseringan datang kesini (ya karena adat ditanah kami seperti itu, ketika wanita sering didatangi teman lelakinya mereka berifikir sudah ada keseriusan diantara mereka)”
Usman    :” dek, kalau siap ga siap aku sendiri sebenarnya siap dek, tapi aku masih punya 2 kakak yang belum menikah, dan aku juga masih kuliah aku bingung mau ngomong gimana sama ibuku.”
Yuni         :” ya udah nanti aku tak bilang sama bapak dan ibu seperti yang mas bilag ke aku”
Itu beban pertama bagiku karena sebenarnya saat itu masih ada keraguan dariku. Karena aku masih tertarik dengan wanita lain saat itu. 2 bulan sebelum aku lulus kuliah aku menjalin asmara dengan wanita yang pula datang dari masa laluku. Sudah 1 bulan aku menjalin cinta dengannya hingga hal ini diketahui oleh Yuni, tapi Yuni masih mau menerimaku aku tinggalkan selingkuhanku itu. Hingga aku lulus kuliah di awal bulan November 2014 . Hubungan kami masih ceria tanpa halangan. Dia meminta buat datang keacara wisudaku, tapi dengan berat hati aku menolak, karena saat acara wisudaku hanya ada dua undangan buat orang yang akan datang. Dia memaklumi hal itu.
5 Januari 2015, aku diterima kerja di suatu perusahaan Koran local. Aku bekerja dimalam hari selayaknya vampire atau kelelawar yang hanya muncul pada malam hari. Sehabis magrib aku berangkat dini hari aku pulang. Waktu untuk hubungan kamipun berkurang. Yuni yang bekerja disiang hari dan aku yang bekerja dimalam hari. Sehingga semakin sedikit waktu yang bisa kita habiskan utntuk bersama. Saat ini aku sudah yakin dengan hatiku, cukup Yuni seorang yang akan menjadi calon istriku kelak tapi entah kapan aku punya keberanian buat datang melamar Yuni. Kebersamaan kami kembali berkurang ketika dia mengikuti kegiatan karate didekat kos yang dia tinggali saat ini dekat tempat kerjanya. Waktu kerjaku nyantai msh bisa sekedar buat kirim pesn singkat hingga jam 9 malam karena lebih dari itu aku sudah mulai sibuk dengan pekerjaanku. Dengan dia mengikuti kegiatan karate disana dari jam 7 hingga 9 malam setiap hari selasa dan kamis. Berkurang juga waktu buat kita berdua.
Awal Mei 2015 keegoisanku karena rasa takutku meluap-luap keluar dari mulutku. Aku jadi sering menuduhnya punya yanglain karena dia sering menghilang tak balas pesan singkatku. Dia beralasan telfon genggamnya eror tak bisa buat mengirim pesan. Kecurigaanku semakin menjadi-jadi sehingga keluar kata-kata yang mungkin menghentak hatinya. “ apa dedek ada yang lain sehingga dedek milih menghilang dari aku? Mungkin dedek sudah ga butuh aku lagi.” itulah yang sering aku kirimkan ke dia melalui pesan singkat. Hingga pembicaraan yang lebih seriuspun timbul.
Yuni         :” maaf mas aku lebih sering ngilang dari mas usman, karena aku ada masalah.”
Usman    :” masalah apa dek? Kenapa dedek tidak mau cerita sama aku aja?”
Yuni         : “apa semua masalah harus diceritakan mas? Tidak kan?”
Usman    :” buat apa hubungan kita kalau dedek tetap gak mau cerita sama aku dek? Apa dedek udah ga butuh aku lagi sampai dedek gak mau cerita sama aku? Oke kalau begitu aku tak ngilang aja kalau gitu” (itu kata yang aku sesalisampai saat ini)
Yuni         :” jangan paki emosi mas”
Tak lagi ku balas pesan singkatnya hingga tak ada kabar dari kita berdua. Kangen dan marah campur aduk menjadi satu. Hingga dia Tanya ingatkah tanggal 25 Mei hari apa? Ya dengan jelas aku ingat itu adalah hari ulang tahunnya Yuni. Tapi sayang aku tak bisa berikan apa-apa aku hanya bisa buatkan video stop motion dan nyanyian lagu ulang tahun dari sauara fals ku. Tepat tanggal 25 Mei dia memintaku datang kekosan dia, aku datang kesana, dan kesalahanku lagi disni dihari bahagianya aku malah mengintrogasinya ada masalah apa sebenarnya kemarin itu.
Usman    :” dek sebenerny kemarin ada apa to? Kenapa ga mau cerita sama aku keapa dedek milih diam dari aku?”
Yuni         :”gak apa-apa mas udah jangan bahas itu lagi mas”
Usman    :”dek kita pacaran udah lama, sudah 2 tahun kita pacaran sudah hampir 3 tahun kita punya hubungan dan sudah hampir 5 tahun aku kenal dedek, kenapa dedek tidak mau cerita? (Yuni hanya diam, dan sesekali mengusap air matanya. Tak tega aku melihatnya aku usap air matanya aku pegang pipinya) dek cerita sama aku sayang. (Yuni masih saja diam tak mau cerita, rasa egoisku muncul lagi disini) ya udah kalau memang dedek tidak mau cerita lebih baik aku pulang saja. (ku ambil tasku aku beranjak berniat untuk pergi dan berharap Yuni mau menghentikanku)”
Yuni         :” aku minta mas usman kesini itu bukan buat introgasi aku. (kata yang keluar ditengah tangisnya)”
Usman    :” ya udah sekarang cerita sama aku sebenarnya ada apa?”
Yuni         : (masih dalam isak tangisnya) “ kalau orang tuaku pengen mamas datang kerumahku sama ortune mas usman gimana.”
Usman    : (terhenyak batinku seketika itu yang dalam keadaan ini aku sedang mengalami masalah dengan orang tuaku yang sebenarnya kurang setuju dengan hubunganku karena takut yuni mengejar2 buat aku nikahi dia karena Yuni sudah memasuki masa dewasa selisih 3 tahun aku denganya.) “Jadi masalah itu kenapa tidak dari kemarin-kemarin dedek bilang itu?”
Yuni         : “ aku takut mas sama mas usman karena sudah pernah ngomong belum siap dulu”
Usman    : (aku ceritakan keadaanku dengan ibuku) nah kalau begini kita jadi enak sayang kita hadapi sama-sama masalah ini”
Yuni         : “iya mas” (hingga dia berhenti dari tangisnya)
Tapi apa yang aku ucapakan itu sebenarnya menjadi boomerang bagi diriku sendiri. 2 hari kemudian Yuni masih saja ngilang terkadang tak balas pesan singkatku. Dan menambah kesalahanku terhadap dirinya. “kenapa dedek ga bales lg smsku? Mau ngajak marahan lagi?” kesombongan akan sikapku yang seolah-olah aku benar-benar memiliki Yuni telah menjadi senjata makan tuan. Dan pada suatu malam aku pun telfon Yuni untuk minta kejelasan.
Usman    : (aku telfon beberapa kali takdiangkatnya. Baru diangkat setelah yang kesekian kalinya) “deek”
Yuni         : “iya mas?”
Usman    : “dedek itu maunya gimana sih? Apa dedek bosen sama aku?”
Yuni         : “ sedikit.”
Usman    : (terhenyak lagi batinku dan terasa sakit meremukan hati. Bukan memperbaiki keadaan tapi malah memperburuk keadaan yang aku ucapkan). “sedikit? Dedek bilang sedikit? Ada yang lain?”
Yuni         : “enggak”
Usman    : “ terus kenapa?”
Yuni         : “bukane mamas yang pernah bilang kalau dalam suatu hubungan pasti ada titik jenuh?”
Usman    :”iya dek aq pernah bilang gitu tapi bagaimana pasangan itu menghadapi titik jenuh itu biar mereka bertahan tetap bersama. apa dedek tidak memikirkan kelanjutan hubungan kita hingga pernikahan nanti”
Yuni         : “sempat Pernah, tapi sekarang aku ragu”
Usman    : ” kenapa ragu?”
Yuni         : ” ga tau”
Usman    : “dedek sudah ga sayang sama aku sudah gak cinta lagi sama aku?”
Yuni         : “masih.”
Usman    : “ terus kenapa?? (aku terheran-heran dan bingung harus gimana lagi)”
Yuni         : “ga tau. ya udah biarin aku sendiri dulu mas, udah malem mas. Mas usman berangkat kerja sana, katane malem sabtu kerjaane repot.”
Usman    : “ ya udah (ku matikan telfon dan dengan tangis ku berjalan ketempat kerja, bukan tangis mengeluarkan air mata tapi tangis dari dalam hati)”
Dari saat itu tak bisa ku pejamkan mata perut terasa lapar tapi mulut tak mau makan. Aku tak tahu kenapa bisa seperti ini. Takut, khawatir, sedih sudah menjadi adonan yang menjalar disetiap inchi tubuhku, gelisah apapun tak bisa ku lakukan. Kesana kemari seperti orang bingung hingga paginya setelah rapat kerja dikantorku aku punya niatan untuk datangi dia dikosan Yuni. Tapi dia menolak buat menemui aku, dia menolak buat bicara denganku. Yuni pun bilang kalau aku nekat kesana Yuni tetap tak akan menemui aku, dan dia jua bilang kalau dia lembur. Tapi karena keegoisanku pula aku tetap kekosan dia, aku berjalan setelah setengah jam berjalan aku melewati tukang ojek yang selalu dy naiki untuk pulang yang berada didekat rumahnya. Apa dia sudah naik ojek dari sini dengan cara aku menunjukkan photo Yuni yang tersimpan dalam telfon genggamku. Tapi belumlah lewat ucap para tukang ojek. Tak pernah semarah ini dia kepada ku itulah pikirku, aku datang bermaksud minta maaf atas semua kesalahanku dan keegoisanku ini.
Setelah 1 jam ku tempuh perjalanan ke kosan dia, ternyata benar yang dia katakana dia tidak mau menemuiku. Aku Tanya ke teman kerjanya apa benar dia lembur, dan jawabannya Yuni tidak lembur. Aku telfon Yuni 2 kali tak diangkatnya sedangkan yang ke 3 sudah dimatikan dan tak ada kabar darinya. Semakin takut aku dibuat itu. Berniat aku menunggunya sampai magrib tiba, tapi aku pikir itu akan sia-sia. Gemetaran tubuhku karena tak bisa tidur malam itu dan belum ada nasi yang masuk kedalam perutku. Kalaupun aku bertahan menunggunya aku tak tahu apa aku bertahan bisa sampai rumah nanti. Sudah taka da uang dalam dompetku karena kuhabiskan buat beli bahan bakar untuk motorku. Aku minta tolong kepada ibu kos disana aku minta secarik kertas dan kutulis surat untuknya bermaksud dia mau memaafkan aku dan mau menghubungi aku kembali. Tapi semua itu sia2 sampai 2 hari taka da kabar darinya, semakin gelisah dan sakitnya batinku.
Ku beranikan diri bilang ke orang tuaku untuk melamarnya, dengan tangis yang sebenarnya aku tak tahu kenapa aku bisa menangis seperti ini. Dan saat ini ibuku mengijinkanku untuk bisa melamarnya. Walaupun nanti kita tunangan dulu itu maksudku. Bingung bagiku bagaimana aku memberi tahu Yuni akan kabar kembira ini. Aku kirimkan pesan lewat rekan kerjanya. Hal mengejutkan terjadi, tak ada respon darinya. Selasa adalah hari libur pikirku, malam selasa aku libur kerja. Aku berniat datang kekosan Yuni atau tempat kerjanya. Tentu saja itu keputusan yang kubuat setelah aku pertimbangkan benar-benar. Aku berdoa kepada Alloh supaya aku dimantapkan untuk menemuinya jika memang Yuni itu jodohku. Dengan mantap aku datang ketempat kerjanya. Aku tunggu dia keluar dari tempat kerjanya. Dari kejauhan aku lihat Yuni dan kuhampiri. Dan ternyata dia pura-pura tak mengenaliku sehingga aku tahan tangannya.
Usman  : “ dek, please kita harus bicarakan ini, kita harus selesaikan ini (dia hanya diam saja dan dia mencoba buat melepaskan genggamanku) dek please, please dek kita bicarakan ini sayang..”
Yuni       : “malu ini lo diliatin orang (ya memang hal itu memalukan untuk dilakukan tapi aku tak peduli karena aku ingin dia kembali kepadaku)”
Usman  : ”ya udah kita cari tempat yang pas buat bicarakan ini (akhirnya dia mau membonceng motorku. Meski aku bingung kemana aku harus bicarakan ini.)”
Akupun terus berjalan memacu motorku terasa sakit perutku karena tak bisa makan dari pagi memikirkan ini. Pening kepalaku sehingga aku takut hal buruk menimpaku dengan Yuni. Kemudian aku melihat bangunan dimana ada halaman yang cukup luas dan taka da orang disana yang mungkin bisa membuat Yuni mau membuka hatinya tuk mengatakan apa yang dia inginkan dan dia harapkan dariku.
Usman  : “ sebenere dedek kenapa to?”
Yuni       : “ aku pengen sendiri dulu mas.”
Usman  : “kenapa? Apa temane dedek sudah ngomong sama dedek? (Yuni hanya diam saja) dek kenapa sekarang dedek tidak yakin dengan hubungan kita? Orang tuaku sudah mengijinkan aku buat datang kerumahe dedek dengan kakak-kakakku cuman menunggu kepulangan kakakku yag sekarang msh berada dimedan (kebetulan kakaku lagi pergi main kesana)”
Yuni       : “kapan mo erumah?”
Usman  : “ aku masih beum tahu dek kapan, karena ibuku juga mau musyawarah dengan kakak-kakaku juga dek. Mungkin dalam waktu dekat sayang”
Yuni       : “ kasih aku waktu.”
Usman  : “sampai kapan dek”
Yuni       : “sesanggupku.”
Usman  : “ dedek ketika aku sudah serius ngomong ke ibuku tapi kenapa dedek malah menjau dariku?”
Yuni       : “ kasih aku waktu mas.”
Usman  : “dek aku minta maaf apa yang terjadi kemarin kalau memang dedek bosan sama aku karena jarak dan waktu kita yang jarang ketemu apa perlu aku pindah kerja disini?”
Yuni       : “kenapa tidak dari dulu”
Usman  : “ya udah dedek kasih aku info lowongan kerja disni aku pindah kesini secepatnya”
Yuni       : “aku butuh waktu sendiri mas. Malah mamas mau kesini”
Usman  : “sampai kapan sayang?”
Yuni       : “sampai habis lebaran”
Usman  : “ dek waktu 2 tahun itu bukan waktu yang sebentar dek? Apa dedek mau perjuangan dedek buat bertahan sama aku rasa sakit dedek yg sering aku buat berakhir sia-sia begitu saja?”
Yuni       : “ beri aku waktu sampai habis lebaran”
Usman  : “ waktu buat apa dek? Buat menghindar dariku?”
Yuni       : “ waktu buat yakinkan hatiku apa aku sanggup tanpa mas usman.”
Usman  : “apa selama ini dedek sanggup?”
Yuni       : “tidak”
Usman  : “terus kenapa dedek butuh waktu?”
Yuni       : “ buat mantapin hati aku?”
Usman  : “ lalu apa yang akan aku katakana ke orang tua ku? Bisa nant orang tuaku tidak percaya lagi denganku dengan hubungan kita. ( Yuni hanya diam). Aku tetap akan kerumahe dedek aku akan bicara dengan orang tuane dedek. Aku akan tunjukin kalau aku bener-bener sayang sama dedek, jadi nanti kalau dedek lebih memilih pergi itu bukan kesalahanku.”
Yuni       : “ terus salahku? Iya memang aku yang salah.”
Usman  : “dek saat ini mungkin kata-kataku sudah tak ada artinya buat dedek siapa tahu orang tua dedek bisa meluruskan hati dedek.”
Yuni       : “egois”
Usman  : “ iya dek aku memang egois, dedek tau itu dari dulu. Aku hanya ingin mempertahankan hubungan kita ini.”
Yuni       : “ ya udah beri aku waktu sampai habis lebaran. Sekarang antar aku balik kekos.”
Usman  : “ iya aku anter kekos tapi sekarang liat muka aku dan katakan dedek sayang sama aku (Yuni hanya diam. Aku paksa pun dia selalu memalingkan pandangannya) kenapa dedek tidak mau melihat wajahku?”
Yuni       : “ tidak sanggup”
Usman  : “ boleh aku meluk dedek yang lama?”
Yuni       : “ ya udah peluk to.”
Usman  : “ tapi aku juga pengen dedek meluk aku bukan hanya memelukku. (Yuni diam aja dan menolak)”
Akupun peluk yuni cukup lama dengan tanggapan dingin darinya. Dan aku kecup keningnya meskipun dia menolak.
Sampai dikosannya, akupun berpamitan. Dia hanya bilang jangan ngebut-ngebut. Bukan itu yang aku takutkan tapi badanku yang telah gemetaran karena belum makan seharian aku takut akuh terjatuh ditengah jalan. Waktu ashar ternyata telah lewat aku lihat jam ternyata sudah jam 5. Aku cari musola buat Solat dan beristirahat. Aku tunggu juga sampai magrib tiba disana. Sera berat aku meninggalkan tempat itu. Beruntung ada anak-anak kecil yang bisa sedikit menghiburku sedikit menghilangkan rasa sakitku. Hingga sehabis magrib aku panjatkan doa setelah solatku. Supaya aku dimantapkan untuk datang kerumahnya buat bicara kepada orang tuanya. Kemudian akupun berjalan pulang sempat aku terhenti ditengah jalan tuk rebahkan tubuhku yang sudah pening dan merasakan sakit dalam perutku. Aku rebah cukup lama disitu. Ku lanjutkan jalanku hingga sampai rumah ku rebahkan tubuhku diatas kasur kapasku. Tak bisa tertidur malam itu aku ambil air wudhlu untuk jalankan solat isyaku. Hingga malam hari terlelap sebentar aku dan terhenyak bangun karena mimpi Yuni kembali. Dan ternyata itu hanya mimpi. Aku ambil air wudhlu dan ku jalankan sholat istikharah supaya diberi kemantapan dalam hatiku untuk datang kepada orang tuanya dan menemukan titik terang antara hubungan kami ini. Dan ketika paginya aku dapat pesan melewati temannya
“tolong kasih pengertian ke mas Usman sekarangkan aku lagi kaya gini, kalau missal mas usman tetep kerumah padahal aku juga gak kasih kepastian dan kepastiannya besok lebaran itu bukan nunjukin keseriusannya dia tapi nunjukin kecerobohannya dia, ya mungkin karena uda serius gak bisa berfikir panjang maka sikapnya menjadi bodoh. Jadi keputusan dia terburu-buru.”
Pesan yang sangat menusuk. Tapi pagi ini hatikupun sudah mantap untuk ketemu orang tuanya.. jika memang orang tuanya mengikuti kemauan Yuni yang seperti itu, aku akan bilang ke ibuku semua itu untuk menunda musyawarah dengan kakak-kakakku.

Kini aku hanya bisa meratapi masa lalu
hanya bisa melihat punggungmu
akan ku rindukan masa-mas itu
kembalilah kepadaku sayangku


I LOVE U YUNI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar