Tak ada lagi rasa takut pada diriku saat ini. Tak lagi aku takut akan ancamannya atau apapun itu. Yang aku takutkan saat ini akan datang cobaan yang jauh lebih besar dari hal-hal kemarin.
Alhamdulillah kini aku kembali pada diriku yang dulu, ketika aku masih kecil yang dimana saat ini masih rajin tuk melantunkan ayat-ayat alquran. Dan sampai saat ini pula doaku untukny masih tetap aku ucapkan sehabis solatku.. Bukanlah doa supaya hal buruk menimpanya, bukanlah itu. Tapi doa agar diriny menjadi lebih baik dan tidaklah terjerumus kedalam hal-hal yang semua orang akan berfikir negatif tentang dirinya.
Banyak kabar miring darinya yang aku sendiri miria mendengarnya. Semoga saja itu tidak benar adanya. Kabar yang aku sendiri tak pernah menyangka jika dia akan menjadi seperti itu. Semoga saja kabar itu hanyalah kabar-kabar yang menyesatkan kewarasanku.
Semoga saja dia masih berada dalam lindungan-Nya. Masihlah dirinya disayang oleh-Mu ya Alloh. Akan aku panjatkan kebahagiaan untuk dirinya, kebahagiaan yang sejati, bukanlah kebahagian yang semu yang hanya ada di dunia ini.
Tak ada kata hati dalam postingan kali ini, karena memang inspirasi itu datang saat kita berada dalam hal yang terpuruk. Mungkin suatu saat nanti akan kembali kutulis itu. Tapi tidaklah saat ini.
Selasa, 16 Juni 2015
Rabu, 10 Juni 2015
11 Juni 2015
Sudah Beberapa Hari tak kutulis kisahku, selasa kemarin 9 Juni tepatnya kudatangi orang tuanya. Kulepas tanggung jawabku atas diri Yuni. apapun yang terjadi pada Yuni sudah bukan urusan Saya. tapi kekhawatiranku atas Yuni ternyata berbuah buruk juga pada diriku. Ada ancaman datng dari pacar barunya karena Yuni dan dia menuduhku telah menghasut orang tuanya. Takut memang, orang nekat banyak saat ini. nah maka dengan adanya ini aku upload semua barang bukti ancaman yang datang dari Ibnu.
Yang aku takutkan dia orang kaya, bisa melakukan apa saja yang dia mau.. jadi tolong jika terjadi sesuatu denganku disinilah kalian bisa menemukan barang bukti karena Ibnulah yang mengancam.
aku kasih pasword filenya. nama panggilan keponakan terkecilku yang jadi paswordnya.
atau filenya juga bisa ditemukan dikomputer tempat kerjaku berada atau di laptop yang ada dirumahku di folder pribadiku.
link :
http://www.mediafire.com/download/ofl2oo1v9yudkt9/Barang_Bukti.rar
Senin, 08 Juni 2015
Senin 8 Juni 2015
Senin 8 Juni 2015
Sudah aku tekadkan untuk tak bersama dirimu lagi. Sekarang bukanlah aku yang akan mengharapkanmu, tapi sumpah serapah dariku yang kau terima dari mulutku. tahukah kau Yuni? sumpah seorang lelaki yang telah berniat baik meminangmu akan menjadi doa yang dikabulkan Alloh. Dan kehidupanmu tidaklah akan lebih bak dari kehidupanku.
Minggu, 07 Juni 2015
Minggu 7 Juni 2015
Minggu 7 Juni
2015
Kemalangan terjadi
juga tadi malam, kasusnya sama dengan yang kemarin sungguh menyedihkan, dalam
dua malam bahan bakar motor tidak tahu aku habiskan. Tapi aku tidaklah sendiri
bersama kawan sekantorku dia pinjam motorku dan kehabisan bensin waktu dekat
dengan kantor kerjaku, padahal semalam aku sedang ada tugas luar kantor bersama
rekan-rekan sekantorku. Sudah jatuh tertimpa tangga, itu pepatah yang tepat
untuk kemalangan semalam, sudah aku isi motor yang aku pinjam dari kakaku itu
tak bisa nyala, peluh mengucur dengan derasnya, dan akhirnya mau nyala setelah
kesekian lama hingga lelah pada kaki begitu ngilu terasa.
Sabtu, 06 Juni 2015
Sabtu 6 Juni 2015
Sabtu 6 Juni
2015
Masih tak ada
perkembangan dan kejelasan dari hubungan
kami. Masih tak ada kabar dari Yuni. Bahkan mala mini, aku dengar diapun tak
pulang kerumahny. Dimana dirimu sekarang sayang? Tersenyum itulah yang aku
pelajari hari ini, aku harus kembali belajar untuk tersenyum demi hilangkan
kegundahan perasaanku. Meski hati menangis, menjerit dan meronta-ronta ingin
diriku tetap bisa tersenyum keapada orang lain itu pikirku.
Sepulang kerja
semalam kemalangan kembali menimpaku. Motor yang aku tumpangi tak terasa sudah
aku habiskan bahan bakarnya. Aku dorong cukup jauh semalam. Tapi dalam
kemalanganku itu telah aku temukan tekad dari dalam diriku. Akan aku temui Yuni
untuk meminta kejelasa hubungan kita ini. Entah dia mau marah atau apapun
reaksinya aku tak mau berlarut-larut dalam perasaan ini. Akupun ingin bahagia
itu yang dikatakan Judika dalam syair lagunya.
Aku tekadkan
besok pagi-pagi aku datangi rumahnya tetapi ketika aku Tanya orang tuanya tak
ada kabar dari Yuni dan diapun tak pulang kerumah. Semakin bikin merinding
batinku. Siksaan ini bertubi-tubi dia jejalkan kedalam diriku. Masih kurang
puaskah dia menyiksaku seperti ini? Yah tekadku sudah bulat, akan aku datangi
tempat kos Yuni. Apapun reaksi dia aku sudah meminta restu ibuku. Ingin aku
dengar penjelasan dari mulutnya apa yang membuat dia berubah sedrastis ini. Akan
aku buat pilihan untuknya.
Mungkin besok
pula sisi kelam dari dalam diriku yang telah lama aku kuburkan akan aku
bangkitkan. Tak peduli apa ingin bagiku tak peduli sepedih apa batinku. Ingin diriku
meski sejenak lupakan kesakitan ini. Meski caci dan maki datang dari mulut Yuni
tapi bagiku jika itu yang akan menyelesaikan masalah kita dan menenangkan
hatiku semua aku terima.
Akupun telah
bersiap, jika dia lebih memilih untuk meningggalkanku akan aku datangi bapak
dan ibunya untuk mengundurkan maksudku untuk meminangnya. Tapi saat ini masih
terusa saja doa demi doa aku panjatkan untuk kelangsungan hubungan kami, untuk
keutuhan hubungan kami dan untuk kebersamaan kami. Tapi setidaknya aku telah
berusaha. Sabar, itulah yang aku temukan saat ini, sabar tidaklah berarti kita
hanya menunggu keajaiban tuhan, tapi semaksimal mungkin bagi kita untuk tetap
berusaha.
KATA HATI
Telah aku mantapkan
batinku
Meski dengan
kepergianmu
Jika itulah yang akan
tenangkan perasaan ini
Akan aku jalani
kehidupanku
Akan aku tunjukkan
kepadamu
Jika aku tidak mau
dihinda dan terus menerus kau asingkan
Yang aku tak ma
uterus menerus terpuruk seperti ini
Ingin secepatnya aku
selesaikan ini
Jika memang pergi
itulah kemauanmu
Maka akan aku cari
pengganti yang jauh lebih baik dari dirimu
Pasrahku kepada Alloh
akan segala doa-doaku
Tapi akupun tetap tak
mau terus tersakiti seperti saat ini
Jumat, 05 Juni 2015
Jumat 5 Juni 2015
Jumat 5 Juni
2015
Satu minggu
sudah tak ada kata sayang dan cinta dari yuni, masih saja tak tahu bagaimana
kabar dia disana. Jarak yang bisa ditempuh selama 30 menitpun ternyata bisa
terasa terlampau jauh bagiku. Tepat 3 hari setelah tanggal 25 kau mengatakan
untukku agar aku meminangmu, tapi ketika aku hendak meminangmu kaupun meminta
waktu untuk jauh dariku. Takut menjalar dalam setiap tubuhku, rasa tenanga
sudah mulai merambat menguasai hati. Tak ada yang menarik hari ini, hanya saja
setiap selesai solat dan membaca alquran hati ini menjadi tenang dan damai. Tapi
setiap kali dan semakin banyak aku bercerita tentang masalah ini rasa sakit
langsung terasa sekali.
Kamis, 04 Juni 2015
Kamis 4 Juni 2015
Kamis 4 Juni
2015
Masih saja tak
ada ketenangan dalam hariku. Galau, khawatir masih saja menyelimuti kegiatanku
hari ini, tak peduli dari pagi sampai sore. Tapi Alhamdulillah masih ada waktu
saaat dimana hatiku benar-benar tentram, ketika aku bersimpuh, menunduk dan
berdoa kepada Alloh.
Semalam aku
kirim pesan kepada Yuni. Tentu saja melalui teman kerjanya, aku bermaksud
mengembalikan apa yang pernah aku pinjam kepada Yuni 2 tahun lalu. Saat itu aku
membutuhkan uang buat membeli Karate-Gi (baju karate)sementara punyaku yang
lama sudah begitu using dan robek penuh tambalan. Aku pinjam 500 ribu dari Yuni
yang saat itu sudah bekerja dan aku masih sibuk dalam urusan kampusku. Ya ini
memang sudah lama dan harusnya aku sudah lama juga mengembalikan itu ke Yuni. Tapi
apa daya, kesulitan ekonomi menjadi halangan bagiku. Jatah uang bulanan yang
300 ribu perbulan untuk makan dan tidur di Jogja tak bisa bagiku sesegera
mengembalikan ke Yuni.
Rabu, 03 Juni 2015
Rabu 3 JUNI 2015
Rabu 3 Juni 2015, aku yakinkan
diriku tuk perlakukan blog ini selayaknya buku diary ku.
Melanjutkan garis besar cerita
sebelumnya, pagi ini Yuni mengirimi pesan untukku melimpahkan kemarahannya atas
kedatanganku menemui orang tuanya. Tak tahu aku apa masalahnya, yang Yuni
katakan hanyalah pesan yang mengatakan aku telah melanggar kesepakatan kita
pada pertemuan sebelumnya. kesepakatan yang mana? Kesepakatan yang Yuni sendiri
nyatakan tanpa ada kata Ya dari mulutku, apakah itu kesepakatan? Masih saja
yuni kira aku mengganggu hidupnya, tak tahu lagi harus kemana aku curahkan rasa
sakit ini. setelah ketenangan yang aku terima dari kedua orang tuanya, kini
Yuni tambal lagi dengan ganjalan yang begitu besar. Kata-kata dia yang meminta
aku beri kesempatan dirinya sampai habis hari raya besok dia mengancam akan
menjawab sekarang, yang aku tahu jawaban itu akan lebih menyayat hati dan
perasaan seorang pria yang dulunya tak pernah menangis ketika kegagalan cinta.
Selasa, 02 Juni 2015
SALAHKAH AKU?
Ketika aku
memulai menulis cerita ini, ini adalah saat dimana aku dalam keadaan
keterpurukanku. Aku pun berfikir akankah kisah cintaku berahur seperti
orang-orang yang ada didekatku ini?
Kisah ini
belumlah berakhir, tanpa ending didalamnya karena kehidupanku haruslah tetap
berlanjut dan harus tetap aku jalani dalam keadaan apapun itu. Aku adalah
seorang yatim yang sudah dewasa. 23 tahun ketika kumemulai tulisan ini. Aku
terlahir dari sebuah kampung yang lumayan jauh dari perkotaan, tidaklah
terlampau jauh cukup 30 menit menggunakan kendaraan bermotor untuk sampai kota.
Ini bukanlah
kisah cinta seorang yang dari masa lalu, tapi ini adalah kisah cinta yang
sering orang bilang cinta monyet atau cinta anak remaja, cinta anak remaja yang
kini berlanjut hingga diriku dewasa. Kisah cinta ini entah bagaimana bermula,
ingatanku sudah terkuras habis untuk mengingat dirinya. Yuni itulah namanya,
tak pernah terpikir olehku akan merasa sakit yang begitu dalam menusuk hati,
merobek-robek jiwa hingga tak tahu arah kemana hidupku kan berlalu.
Sebelum aku
bercinta dengannya tak pernah terpikir olehku akan timbul rasa dalam diri kita
berdua. Bermula ketika dia sebagai kurir cintaku pada masa SMA. Ya cinta monyet
yang berakhir dengan kekalahanku pula.
Langganan:
Komentar (Atom)