Minggu 7 Juni
2015
Kemalangan terjadi
juga tadi malam, kasusnya sama dengan yang kemarin sungguh menyedihkan, dalam
dua malam bahan bakar motor tidak tahu aku habiskan. Tapi aku tidaklah sendiri
bersama kawan sekantorku dia pinjam motorku dan kehabisan bensin waktu dekat
dengan kantor kerjaku, padahal semalam aku sedang ada tugas luar kantor bersama
rekan-rekan sekantorku. Sudah jatuh tertimpa tangga, itu pepatah yang tepat
untuk kemalangan semalam, sudah aku isi motor yang aku pinjam dari kakaku itu
tak bisa nyala, peluh mengucur dengan derasnya, dan akhirnya mau nyala setelah
kesekian lama hingga lelah pada kaki begitu ngilu terasa.
Tapi bukanla
kemalangan yang itu yang akan aku ceritakan. Malam minggu yang seharusnya aku
bisa beristirahat dirumah karena harusnya libur, terpaksa kami harus bekerja
untuk mencari para peminat acara yang akan diadakan oleh kantorku. Gowes itu
yang orang bilang. Dan bukan ini pula yang akan aku ceritakan tapi isi hati ini
yang tiba-tiba terasa begitu mengganjal karena aku tak bisa melupakan Yuni yang
saat semalam aku belum tahu kepastian darinya.
Pagi ini aku
bertekad untuk datang ke tempat dia tinggal di kosannya. Sebenarnya ingin
rasanya aku datang kerumahnya biar bisa dibicarakan dengan baik-baik bersama
kedua orang tuanya. Tapi Yuni tak pulang kerumah, yang aku tahu ketika tadi dia
bertemu denganku malas alasannya. Tadi pagi-pagi dari rumah setengah 7 aku laju
motorku menuju kota dimana dia bekerja. Dengan izin dari ibuku, ku cium
tangannya ketika aku menyalami ibuku kukecup pipinya dan aku meminta doa dan
restu darinya.
Tak terasa air
mataku meleleh dijalan. Tak pernah rasanya aku seperti itu. Memohon doa restu
kepada ibuku untuk menemui pacarku. Sampai dikos yang ditempati Yuni, tak bisa
tanganku mengetuk pintu kosnya. Takut Yuni tak mau menemuiku. Aku minta tolong
ibu kos disana dan dengans edikit paksaan dariku Yuni mau menerimaku sebagai
tamunya. “Terimakasih Ibu Kos.”
Begitu banyak
yang aku bicarakan dihadapan Yuni, yang kali ini beda karena tak ada kemarahan
dalam diriku. Tidak lain aku meminta Yuni buat kemmbali padaku. Sampai kering
mulutku berbicara tak ada tanggapan dari Yuni. Dia lebih asik membalas pesan
pada ponselnya yang aku tak tahu dari siapa. Ratusan hingga ribuan kata dariku
tak ada tanggapan dari Yuni. Hanya ada sepenggal atau dua penggal kata yang
keluar saja.
Kini aku tahu,
begitu besar keaslahanku kepada Yuni karena telah banyak aku tuduhkan kepada
dirinya ynag sebenarnya tak pernah terjadi, “maafkan aku Yuni sayangku, begitu
besar rasa penyesalanku untuk semua itu”. Sempat aku ajak Yuni pulang untuk
menemui orang tuanya agar mendapat jalan keluar yang lebih baik daripada kita
hadapi sendiri. Karena bagiku hubungan kita ini adalah untuk masa yang jauh
kedepan. Berpisah ataupun bersatu ini akan mempengaruhi kehidupanku dan
kehidupan Yuni. Sehingga nasehat orang tua itu yang kita butuhkan saat ini
pikirku. Tapi maksud yang aku inginkan ini tak tersampaikan kedalam hati Yuni. Yuni
menolak apa yang aku katakana.
Ya tadi pagi
aku juga mengembalikan uang yang telah lama aku pinjam dari Yuni. Bekerja selama
6 bulan baru bisa aku bayar hutangku untuknya. Menyedihkan sekali nasib yang
aku alami saat ini. Karena itulah tanggung jawabku, sedikit-sedikit aku
sisihkan uang gaji tiap bulanku.
Bordering ponsel
Yuni ditengah pembicaraan kami, aku dengar sedikit mesra kata yang keluar dari
mulut Yuni. Sakit sangat hati ini, keras detak jantungku terasa ingin keluar
mengetuk-ngetuk dadaku. Hingga aku tegaskan siapa dia.
Usman : “siapa dek? (Yuni
hanya diam saja) hmmm? Siapa??” (aku tatap matanya)
Yuni : ”orang yang
dekat denganku” (kaget,sakit dan ingin
marah rasanya, aku tarik nafasku dan kucoba buat mengerti maksud Yuni yang
sebenarnya, sabar itu yang aku butuhkan saat ini dan itu yang akan aku janjikan
kepada Yuni jika dia mau kembali)
Usman : “ udah deket sama
cowok sekarang?” (Yuni hanya diam, aku hela nafas sejenak hingga aku putuskan
untuk berbicara). Ok sekarang gini aja, aku kasih dedek waktu tiga hari buat
memikirkan ini benar-benar. Aku kasih dedek pilihan, pertama dedek mau milih
aku atau cowoke”
Yuni : “Cowoke”
(terhenyak sesaat diriku, dan aku pandang Yuni) cowoke? (ternyata dia salah
maksud dari pembicaraanku)
Usman : “maksud aku cowok
itu. (agak redam amarahku saat itu karena aku tahu dia bukanlah pacar Yuni,
tapi aku juga tetaplah beri dia pilihan.) apa mau jawab sekarang juga? Dedek kenapa
to?”
Yuni : “dari pada
dituduh terus, sekaliankan?”
Usman : “iya dek aku
minta maaf, aku juga janji sama dedek kebodohan-kebodohan itu tak akan aku
ulangi kalau dedek mau kembali sama aku dek. Ya itu sekarang aku kasih tiga
pilihan sama dedek.”
Yuni : “Ya udah to
gak usah percaya lagi sama aku. (aku kaget) bukannya kemarin mas usman yang
bilang ga bisa percaya lagi sama aku kalau aku punya cowok disini”
Usman : “itukan sudah aku
cabut. Kata-kata itu sudah aku cabut saat pertemuan terakhir kita to dek.”
Aku tunjukkan kalender dari
ponselku untuk meyakinkan Yuni kapan aku mengucapkan itu dan kapan aku mencabut
kata-kata itu.
Usman : “ ya udah gini
aku kasih dedek pilihan, dedek lebih milih aku atau cowok itu dek. Kalau dedek
milih aku dedek kembali sama aku meski pinanganku masih dedek tunda untuk
menjawabnya, kita kembali berhubungan dek. Dedek sadar nggak to? Kalau yang
dedek lakukan ini sebenarnya lebih kejam dari pada waktu dulu aku berselingkuh?
Saat itu kita masih berhubungan dek, tapi apa sekarang dedek lebih milih buat
gantungin aku dek. Sudah satu minggu aku sakit gini dek”
Yuni : “baru satu
minggu” dia memotong pembicaraanku
Usman : (aku tatap
dirinya) “sudah berapa lama dedek sakit gara-gara aku”
Yuni : “hitung aja
to udah berapa kali.”
Usman : “Iya dek aku
minta maaf aku udah sakitin dedek, aku janji akan ikuti dedek kalau dedek mau
balik lagi sama aku. Kita obati hubungan kita yang saat ini bisa dikatakan
dalam keadaan sekarat jika itu orang yang sakit.” (tidak ada kata lagi yang
datang dari mulut Yuni).
Usman : (meneruskan
pembicaraanku tadi) “ sebagai perempuan tidakkah jahat ketika dia membuat
seorang lelaki menangis? Memang aku tidak bisa menangis dihadapan dedek,
tahukah dedek aku menangis ketika mendoakan hubungan kita? Ketika aku berbicara
denga ibuku? Aku menangis dek. Didepan dedek aku memang tak bisa menangis
karena aku juga ingin menjadi pria yang kuat untuk dedek. (aku diam sesaat).
Usman : “sekarang gini
aja, aku kasih dedek 3 hari buat berfikir benar-benar mau dikemanakan hubungan
kita ini dek. Kalau dedek lebih memilih cowok itu dek, maka pertemukan aku
dengan dia, aku gak akan mukul atau yang lainnya aku hanya ingin bicara dengan
dia baik-baik dek. Apa dia sudah tau dedek punya pacar?”
Yuni : “udah.”
(jawaban yang sangat singkat dari Yuni. Jahat juga ya cowok itu, persis seperti
aku yang dulu.)
Usman : “apa dia udah tau
semua kekuarangan dedek”
Yuni : “Udah”
Usman : “dia bisa
menerima dedek?”
Yuni : “bisa” (itu
yang keluar dari mulut Yuni, tak tahu apakah diabenar-benar bisa menerima
kekurangan Yuni, yang dia juga belum tahu saat ini)
Usman : “ ya udah
sekarang 3 hari buat berifikir siapa yang dedek pilih, kalau memang dia yang
dedek pilih aku tak mundur aja dek, aku akan bicara keorang tuanya dedek kalau
aku mengundurkan diri tidak jadi meminang dedek karena dedek punya pilihan
lain, tapi aku juga tidak mau kalau nasib dedek sama seperti orang yang pernah
menyakiti kakak-kakakku dulu dek. Ya jika memang dia lebih baik dari aku lebih
siap untuk menikahi dedek dari pada aku, aku ikhlas dek. Tapi aku tidak mau
kalau dedek sakit nantinya. Ya mungkin dia lebih gagah, lebih ganteng dan lebih
sayang daripada aku aku akan ikhlaskan itu dek. Dan nanti kita kembali
berhubungan selayaknya kita dulu waktu dedek masih SMA, sebagai Usman dan Yuni
yang dulu. Ya itu dedek fikirkan selama tiga hari jadi besok hari Rabu aku
kesini minta kepastian dedek. Kalau dedek milih aku berarti dedek juga harus
tinggalkan cowok itu, soaal jawaban pinangan aku masih sanggup nunggu sampai
habis lebaran dek, Cuma kita tetap berhubungan tidak kaya sekarang ini dek. Kita
tetap smsan telfon-telfonan izinkan aku buat perhatiin dedek. Gimana sepakat?
(aku acungkan tanganku untuk bersalaman dengannya. Yuni hanya diam saja)
gimana? Sepakat? (akhirnya Yuni menerima apa yang aku katakan.)
Yuni : “Iya (sambil
menyalami tanganku)
Setelah
pembicaraan itu aku beranjak pulang dengan hati yang terasa tak ada yang
mengganjal. Tapi entah kenapa ketika siang timbul lagi ganjalan dalam hatiku ini.
Aku hanya bisa berdoa saja jika Alloh mengijinkan Yuni pasti kembali kepadaku.
MAAFKAN AKU SAYANGKU
KATA
HATI
Berat
rasanya ingin aku mendekatimu
Sakit
rasanya ketika aku jauh darimu
Entah
apa yang aku rasa
Berat
bagiku karena kau tolak untuk menemuiku
Sakit
bagiku karena tak bisa aku luapkan rasa rinduku
Maafkan
aku sayangku
Semua
kesalahan-kesalahanku
Kembalilah
kepadaku sayangku
Banyak
janji yang aku ucapkan untukmu
Tak
sanggup aku berjanji jika aku tahu aku tak bisa menepati
Besar
tekadku untuk meminangmu sayangku
Besar
tekadku utntuk bisa menikahimu
Untuk
menuntunmu menuju Surga dihari setelah kematian
Kembalilah
kepadaku sayangku
MAAFKAN
AKU
TAK
SANGGUP BAGIKU PERGI DARIMU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar