STUDY
KELAYAKAN
PENGGEMUKAN
SAPI POTONG (PO)
Disusun
Oleh :
|
Basuki
|
112235 |
|
Rusdiyanto
|
112247 |
|
Ucok Sabit
Sanjaya |
112242 |
|
Usman
Ariyanto |
112254 |
AKADEMI
PETERNAKAN BRAHMAPUTRA
YOGYAKARTA
2013
PENDAHULUAN
Sapi
potong merupakan jenis ternak yang mempunyai nilai jual tinggi
diantara ternak ternak lainnya. Pada umumnya masyarakat membutuhkan
hewan ini untuk dikonsumsi, karena kandungan proteinnya yang tinggi.
Laju pertambahan penduduk yang terus meningkat menuntut ketersediaan
daging yang juga meningkat, oleh karena itu usaha sapi potong
merupakan salah satu usaha yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Saat
ini usaha penggemukan sapi potong biasanya di dominasi oleh
peternak besar maupun kecil. Ada juga beberapa peternak perorangan di
beberapa pedesaan di Indonesia. Masih sangat jarang perorangan di
kota kota besar yang mengalokasikan investasi mereka pada business
ini karena mereka mengganggap bisnis ini awam dan tidak memberikan
keuntungan yang besar, padahal pada kenyataannya bisnis ini tidak
terlalu sulit dan memberikan keuntungan yang cukup besar.
Salah
satu permasalahan yang dihadapi oleh peternak tradisional dalam
peternakan sapi adalah produktivitas ternak sapi yang rendah. Salah
satu faktor penyebab rendahnya produktivitas adalah pemilihan pakan
ternak yang tidak sesuai dengan sistem penggemukan sapi modern juga
system kebersihan kandang yang kurang baik.
Prospek
Investasi Sapi PO
Sapi
Peranakan Ongole (sapi PO) sering disebut sebagai Sapi Lokal atau
Sapi Jawa atau Sapi Putih. Sapi PO ini merupakan hasil persilangan
antara pejantan sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina Jawa yang
berwarna putih.
Sapi
Ongole (Bos Indicus) sebenarnya berasal dari India, termasuk tipe
sapi pekerja dan pedaging yang disebarkan di Indonesia sebagai sapi
Sumba Ongole (SO).
Warna
bulu sapi Ongole sendiri adalah putih abu-abu dengan warna hitam di
sekeliling mata, mempunyai gumba dan gelambir yang besar
menggelantung. Saat mencapai umur dewasa, sapi jantan mempunyai berat
badan kurang dari 600 kg dan yang betina kurang dari 450 kg.
Bobot
hidup Sapi PO bervariasi, mulai 220 kg hingga mencapai sekitar 600
kg.
Saat
ini Sapi PO yang murni mulai sulit ditemukan, karena telah banyak
disilangkan dengan sapi Brahman. Oleh karena itu sapi PO sering
diartikan sebagai sapi lokal berwarna putih (keabu-abuan), berkelasa
dan gelambir.
Sesuai
dengan induk persilangannya, Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging
dan sapi pekerja. Mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap
perbedaan kondisi lingkungan, sapi ini juga memiliki tenaga yang
kuat.
Aktivitas
reproduksi induknya cepat kembali normal setelah beranak, sedangkan
jantannya memiliki kualitas semen yang baik.
Keunggulan
sapi PO ini antara lain tahan terhadap panas, terhadap ekto dan
endoparasit, pertumbuhan relatif cepat walaupun adaptasi terhadap
pakan kurang, serta persentase karkas dan kualitas daging baik.
TINJAUAN
PUSTAKA
Kebutuhan
Daging Sapi di Indonesia
Usaha penggemukan
sapi akhir-akhir ini semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan
semakin banyaknya masyarakat diberbagai daerah yang mengusahakan
penggemukan sapi potong. Perkembangan usaha penggemukan sapi ini di
dorong oleh permintaan daging yang terus meningkat dari tahun
ketahun.
Menurut Anonimus (2004) kebutuhan daging sapi dalam negri pada tahun 1998-2003 mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan data kebutuhan daging pada tahun 1998 sebesar 405.000kg sedangkan pada tahun 2003 kebutuhan daging meningkat menjadi 441.000kg.
Menurut Anonimus (2004) kebutuhan daging sapi dalam negri pada tahun 1998-2003 mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan data kebutuhan daging pada tahun 1998 sebesar 405.000kg sedangkan pada tahun 2003 kebutuhan daging meningkat menjadi 441.000kg.
Bangsa-bangsa
Sapi Potong
Sapi ongole adalah
sapi keturunan sapi liar Bos
Indicus
yang berhasil dijinakkan di India. Ciri khas sapi ongole adalah
berbadan besar, berpunuk besar, bergelambir longgar, dan berleher
pendek. Kepala, leher, gelambir dan lutut berwarna hitam, terutama
pada sapi jantan. Kulit di sekeliling mata, bulu mata, moncong, kuku,
dan bulu cambuk pada ujung ekor berwarna hitam. Kepala pendek dengan
profil melengkung. Mata besar dengan sorot yang tenang. Tanduk pendek
pada sapi jantan dan lebih panjang pada betina. Telinga panjang dan
menggantung. Di Indonesia sapi ongole dapat dibedakan menjadi dua
kelompok, yaitu sumba ongole (SO) dan peranakan ongole (PO). Sumba
ongole adalah keturunan murni sapi nellore
yang dikembangkan secara murni di pulau Sumba dan merupakan sumber
indukan sebagian besar ongole murni di dalam negeri. Persilangan
antara sumba ongole dengan sapi jawa menghasilkan anakan yang mirip
sapi ongole sehingga disebut peranakan ongole (PO).
Sapi Madura,
dikenal dengan sapi karapan. Selain itu dikenal sebagai sapi kerja
dan sapi potong. Sapi madura merupakan persilangan sapi zebu
(keturunan Bos
indicus)
dari India dan sapi domestik keturunan Bos
sondaicus.
Ciri-ciri dari sapi madura secara umum, tubuh sapi ini kecil dan
berkaki pendek. Sapi jantan mempunyai punuk yang berkembang baik dan
jelas, sedangkan sapi betina tak berpunuk. Warna tubuh merah bata
atau merah kecokelatan bercampur putih dengan batas yang kurang jelas
pada pantat. Pada kepalanya terdapat tanduk kecil, melengkung ke
depan, dan melingkar seperti bulan sabit. Bobot sapi madura jantan
dewasa 275-300 kg dan sapi betina dewasa 180-250 kg.
Sapi Bali,
merupakan sapi domestik yang berasal dari Bali. Merupakan keturunan
sapi liar (banteng) yang telah mengalami penjinakan sejak
berabad-abad yang lalu. Ciri-ciri sapi bali adalah sapi jantan dewasa
berwarna hitam dengan kepala yang lebar. Otot di bagian leher
terlihat kompak dan kuat. Dada lebar dan berdaging tebal. Pantat
putih berbentuk setengah bulan dan ujung ekor berwarna hitam. Bagian
lutut ke bawah berwarna putih. Sedangkan sapi betina dewasa berwarna
merah. Kepala panjang, halus, sempit, dengan tanduk yang kecil serta
pendek. Pada bagian punggungnya terdapat garis berwarna putih seperti
belut. Bobot sapi jantan dewasa antara 375-400 kg dan sapi betina
dewasa 275-300 gr.
Sapi Brahman,
merupakan keturunan sapi zebu yang berkembang di Amerika serikat yang
beriklim tropis. Ciri-ciri sapi brahman adalah berpunuk besar dan
berkulit longgar. Gelambir di bawah leher sampai perut lebar dengan
banyak lipatan. Telinga panjang menggantung dan berujung runcing.
Sapi Limousin,
merupakan sapi potong keturunan Bos
taurusyang
berhasil dikembangkan di Prancis. Ciri-ciri sapi limousin adalah
tubuh besar dan panjang serta dadanya yang besar dan berdaging tebal.
Bulunya berwarna merah mulus. Sorot matanya awas. Kaki tegap dan
mulai bagian lutut ke bawah berwarna terang. Tanduk pada sapi jantan
tumbuh keluar dan agak melengkung. Bobot sapi jantan dapat mencapai
850 kg, sedangkan sapi betina dapat mencapai 650 kg.
Sapi Simmental,
merupakan sapi potong turunan Bos
taurus
yang dikembangkan di lembah Simme, Switzerland, dan Swiss. Merupakan
tipe sapi triguna, sebagai sapi potong, sapi perah, dan sapi pekerja.
Ciri-ciri sapi simmental adalah bulunya berwarna krem, agak cokelat,
atau merah separti sapi bali. Pertumbuhan ototnya bagus dan
penimbunan lemak di bawah kulit rendah.
Metode
Penggemukan Sapi Potong
Di Indonesia sistem
penggemukan sapi dikenal dengan sistem kereman. Dalam penggemukan
sapi sistem kereman ini sapi yang dipelihara didalam kandang terus
menerus dalam periode tertentu. Sapi tersebut diberi makan dan minum
di dalam kandang, tidak digembalakan ataupun dipekerjakan (Sugeng,
2002).
Menurut Siregar (2003).
Menurut Siregar (2003).
Sistem penggemukan
terdiri dari tiga macam penggemukan yaitu Dry Lot Fattening yaitu
pemberian ransum dengan pemberian biji-bijian atau kacang-kacangan,
Pasture Fattening yaitu sapi yang diternakan digembalakan dipadang
pengembalaan, dan Kombinasi anatara Dry Lot Fattening dan Pasture
Fattening yaitu system ini dilakuakn dengan pertimbangan musim dan
ketersedian pakan. Di daerah tropis pada saat musim produksi hijauan
tinggi penggemukan dilakukan dengan Pasture Fattening sedangkan pada
saat hijauan berkurang penggemukan dilakukan dengan cara Dry Lot
Fattening.
Perkandangan
Pembangunan kandang
harus memberikan kemudahan perawatan sapi, mencegah sapi supaya tidak
berkeliaran, dan menjaga kebersihan lingkungan. Dengan adanya
kandang, pengamanan terhadap pencuri sapi akan lebih terjaga. Menurut
Siregar (2006) pembuatan kandang untuk penggemukan memerlukan
beberapa persyaratan sebagai berikut :
- Memberi kenyamanan bagi sapi-sapi yang digemukkan dan bagi si pemelihara ataupun pekerja kandang.
- Memenuhi persayaratan bagi kesehatan sapi
- Mempunyai ventilasiatau pertukaran udara yang sempurna
- Mudah dibersihkan dan terjaga kebersihannya
- Memberi kemudahan bagi peternak ataupun pekerja kandang pada saat bekerja sehingga efisiensi kerja dapat tercapai
- Bahan-bahan kandang yang digunakan bertahan lama, tidak mudah lapuk, harganya relative murah dan mudah didapat didaerah sekitar
- Tidak ada genangan ait didalam ataupun diluar kandang.
Pemilihan
Bibit Sapi Potong
Pemilihan bibit akan
menentukan majunya peternakan yang akan dikembangkan. Bangsa-bangsa
tertentu cocok apabila keadaan iklim dan pakan sesuai sehingga mampu
memberikan keuntungan tertentu dibandingakan bangsa lainnya.
Bangsa-bangsa sapi dapat dibagi menjadi 4 yaitu bangsa Eropa, bangsa
India, bangsa yang dikembangkan di Amerika Serikat dan yang terakhir
disebut bangsa eksotik.
Sebenarnya tidak ada
bangsa yagn sempurna sebab setiap ternak memeliki sifat-sifat yang
cocok untuk keadaan tertentu ataupun tidak cocok untuk keadaan
tertentu pula. Pemilihan suatu bangsa sapi tergantung pada kesukaan
peternak, keadaan lingkungan, kemampuan adaptasi, efisiensi
reproduksi, kemauan memelihara dan menyusui anak, ukuran badan dan
pertambahan berat badan. (Blakely dan Blade, 1996).
Penyakit
Kejadian penyakit
diare pada pedet sangat tinggi diare dapat disebabkan oleh bakteri,
virus dan protozoa. Anonimus (2006) menyatakan bahwa E. coli
merupakan salah satu penyebab diare pada sapi, yang menyebabkan
jaringan epitel dalam usus berubah fungsi dari metode penyerapan
(nutrisi) menjadi metode pengeluaran. Lebih lanjut dikatakan bahwa
pengobatan penyakit diare berupa antibiotik (streptomicyn) dapat
mengurangi populasi bakteri sehingga proses pencernaan dapat berjalan
dengan normal kembali.
Hardjopranjoto
(1995) menyatakan bahwa ukuran pedet yang terlalu besar pada waktu
partus, menyebabkan kontraksi dinding perut yang kuat, mendorong
dinding uterus membalik keluar, sedang serviks masih dalam keadaan
terbuka lebar (kendor).
Toelihere (1985) menyatakan bahwa pada dasarnya retensio secundinae diakibatkan oleh kegagalan pelepasan kotiledon selaput dari karangkula induk. Pengobatannya adalah plasenta yang masih tertinggal dikeluarkan dengan cara enukleasi.
Toelihere (1985) menyatakan bahwa pada dasarnya retensio secundinae diakibatkan oleh kegagalan pelepasan kotiledon selaput dari karangkula induk. Pengobatannya adalah plasenta yang masih tertinggal dikeluarkan dengan cara enukleasi.
Selain itu juga
penyakit yang sering menyerang induk adalah prolapsus uteri.
Prolapsus uteri atau pembalikan uterus terjadi sesudah patrus dan jarang terjadi beberapa jam setelah itu, apabila pembalikan uterus paling tinggi hanya mencapai canalis cervicalis keadaan ini disebut inversion uteri.Inversio uteri jarang terjadi tanpa prolapsus uteri oleh karena itu disebut prolapsus uteri, dimana seluruh uterus membalik dan menggantung keluar dari vulva (Toelihere,1985).
Prolapsus uteri atau pembalikan uterus terjadi sesudah patrus dan jarang terjadi beberapa jam setelah itu, apabila pembalikan uterus paling tinggi hanya mencapai canalis cervicalis keadaan ini disebut inversion uteri.Inversio uteri jarang terjadi tanpa prolapsus uteri oleh karena itu disebut prolapsus uteri, dimana seluruh uterus membalik dan menggantung keluar dari vulva (Toelihere,1985).
Pakan
Menurut Hartadi
(1986) konsentrat adalah suatu bahan pakan yang digunakan bersama
bahan pakan lain untuk meningkatkan keseimbangan nutrisi dari
keseluruhan bahan pakan dan dicampur sebagai suplemen (pelengkap)
atau pakan pelengkap.
Menurut Murtidjo (1990) bahan pakan digolongkan menjadi 3 yaitu pakan hijauan, pakan penguat dan pakan tambahan.
Menurut Murtidjo (1990) bahan pakan digolongkan menjadi 3 yaitu pakan hijauan, pakan penguat dan pakan tambahan.
Pakan hijauan yaitu
semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa
daun-daunan. Yang termasuk hijauan adalah rumput, leguminosa dan
tumbuhan lain. Semuanya dapat diberikan untuk ternak dengan 2 macam
bentuk yaitu berupa hijauan segar dan kering.
Pakan penguat yaitu
pakan yang berkonsentrasi tinggi dengan kadar serat kasar relative
rendah dan mudah dicerna. Bahan pakan penguat meliputi bahan pakan
yang berasal dari biji-bijian seperti jagung giling, menir, hasil
ikutan pertanian atau pabrik seperti dedak, bungkil kelapa,
tetes..yang berfungsi untuk meningkatkan dan memperkaya nilai
nutrient pada bahan pakan lain yang nilai nutriennya rendah.
Pakan tambahan
biasanya berupa vitamin, mineral, dan urea. Pakan tambahan dibutuhkan
oleh sapi yang dipelihara secara intensif yang hidupnya berada dalam
kandang secara terus-menerus. Pakan tambahan tersebut antara lain
vitamin A dan D, mineral terutama Ca dan P, urea. (Anonimus,2001).
Dalam menyusun pakan
ternak ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu tersedianya
bahan baku pakan yang digunakan, kandungan zat-zat pakan dari bahan
baku tersebut dan kebutuhan zat pakannya. Pemberian pakan harus
disesuaikan dengan kebutuhan ternak karena kebutuhan zat pakan dan
jumlah konsumsi yang berlebihan dapat menyebabkan pertambahan bobot
badan tidak maksimal (Tillman, 1998).
Pakan adalah bahan
yang dapat dikonsumsi dan dicerna oleh ternak, yang mengandung
kebutuhan nutrisi bagi pertumbuhan ternak. Pakan menurut cullison
(1982), memiliki fungsi utama dan fungsi tambahan. Fungsi utama bagi
ternak adalah:
- Sebagai bahan material untuk menyusun dan menjaga struktur tubuh.
- Sebagai sumber energi.
- Untuk menjaga keseimbangan metabolisme dalam tubuh.
Adapun fungsi
tambahan pakan adalah sebagai sumber energi untuk proses produksi
susu, daging, kulit, dan wool. Bahan pakan yang dipilih harus
berkualitas dan memenuhi syarat yaitu tidak berjamur dan tidak
berdebu. Konsentrat adalah pakan ternak yang berasal dari biji –
bijian atau hasil samping dari pengelolaan produk pertanian seperti;
bungkil kacang, bungkil kedelai, bungkil kelapa, dedak padi, ampas
tahu, tetes dan sebagainya.
Biasanya pakan
konsentrat mengandung protein yang tinggi (Darmono, 1992).
Dalam menyusun pakan ternak ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu tersedianya bahan baku yang akan digunakan, kandungan zat – zat makanan dari bahan baku tersebut dan kebutuhan zat makanannya
Dalam menyusun pakan ternak ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu tersedianya bahan baku yang akan digunakan, kandungan zat – zat makanan dari bahan baku tersebut dan kebutuhan zat makanannya
Penanganan
Limbah
Limbah dari ternak
dapat mendatangkan keuntungan yang berpotensi apabila dikelola dengan
baik. Kotoran cair dan padat dari etrnak pada umumnya digunakan
sebagai pupuk organic bagi tanaman pertanian ataupun lahan hiajuan
makanan ternak (Darmono, 1992)
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Analisis
Kelayakan Usaha Penggemukan
Sapi Potong
Berikut
ini rincian dari analisis penggemukan sapi potong dimana lahan
yang digunakan merupakan tanah milik
sendiri dan
tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya.
Sapi
dipelihara selama 6 bulan dengan penambahan berat badan sekitar 0,7
kg/ekor/hari
dengan berat awal 250kg. Untuk kotoran
yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 6.000 kg dijual
dengan
harga Rp. 200/kg.
A.
MODAL USAHA
Biaya
Investasi
|
1
|
Pembuatan
kandang 30 M2 x
Rp. 400.000
|
Rp.
12.000.000
|
|
2
|
Peralatan
kandang
|
Rp.
500.000
|
|
|
Total
Biaya Investasi
|
Rp.
12.500.000
|
Biaya
Variabel
|
1
|
Sapi
bakalan PO
6
ekor
x Rp. 7.000.000
|
Rp.
42.000.000
|
|
2
|
HMT
40 kg x 6 x 180 x Rp. 100
|
Rp.
4.320.000
|
|
3
|
Konsentrat
3 kg x 6 x 180 x 1.500
|
Rp.
4.860.000
|
|
4
|
Pakan
Tambahan (mineral dan obat-obatan)
|
Rp. 648.000
|
|
|
Total
Biaya Variabel
|
Rp.
51.828.000
|
Biaya
Tetap
|
1
|
Tenaga
Kerja 1 orang x 6 x Rp. 500.000
|
Rp. 3.000.000
|
|
2
|
Penyusustan
kandang 10 % x Rp. 12.000.000
|
Rp. 1.200.000
|
|
3
|
Penyusutan
peralatan
|
Rp.
250.000
|
|
|
Total
Modal Tetap
|
Rp.
4.450.000
|
TOTAL
BIAYA PRODUKSI
= Rp. 51.828.000 + Rp. 4.450.000 = Rp.
56.278.000
MODAL
USAHA = Total Biaya + Biaya Investasi
=
Rp.
56.278.000
+ Rp.
12.500.000
=
Rp. 68.778.000
B.
PENERIMAAN
Penjualan
sapi dan kotoran
- Penambahan berat badan 0,7 kg x 180 = 126 kg/ekor/periode dan berat badan sapi sekarang untuk setiap ekor adalah 376 kg
- Untuk berat keseluruhan adalah 6 x 376 kg = 2.256 kg dengan harga Rp. 32.000/kg.
- Jadi uang yang didapat adalah 2.256 kg x Rp. 32.000/kg = Rp. 72.192.000
- Penjualan kotoran ternak 6.000 kg x Rp. 200 = Rp. 1.200.000
TOTAL
PENERIMAAN =
Rp. 72.192.000 + Rp. 1.200.000 = Rp.
73.392.000
KEUNTUNGAN =
Rp. 73.392.000 - Rp. 56.278.000 = Rp.
17.114.000
Keuntungan
dalam
1 tahun = Rp.
17.114.000
x 2 = Rp. 34.228.000
- R/C = Rp. 73.392.000 : Rp. 56.278.000
=
1.30
R/C Ratio > 1,
usaha
penggemukan Sapi potong
layak dikembangkan
- B/C Ratio = Rp. 17.114.000 : Rp. 56.278.000
=
0.30
B/C
Ratio > 0, usaha
penggemukan sapi potong
menguntungkan
- Payback Period (PP)
PP =
(Rp.
68.778.000
: Rp.
34.228.000)x 1 thn
=
2 tahun
Dalam
sekali panen biaya investasi sudah bisa kembali.
- BEP ( Break Even Point )
1.
BEP Harga = Total biaya : Berat sapi total
=
Rp. 56.278.000 : 2.256
= Rp. 24.945 / kg
2.
BEP Volume Produksi = Total biaya produksi : Harga jual
=
Rp. 56.278.000 : Rp.32.000/kg
=
1.758 kg
Artinya
usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 6 ekor sapi
mencapai berat badan 1.758 kg atau harga jual Rp. 24.945/kg
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil analisa kelayakan usaha, menunjukkan bahwa usaha penggemukan
sapi potong layak dan menguntungkan dengan nilai B/C
ratio
0.30
dengan investasi pada titik
impas
(BEP)
jika
6 ekor sapi mencapai berat badan 1.758 kg atau harga jual Rp.
24.945/kg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar